Senin, 03 Oktober 2011

semen


MODUL 3
SEMEN, AIR DAN BAHAN TAMBAH UNTUK BETON


Kegiatan Belajar 1 :


  1. Semen dan Air Untuk Beton

Tujuan Instruksional Khusus
Setelah akhir pelajaran diaharapkan siswa :
  • Mampu menjelaskan jenis – jenis semen untuk beton
  • Mampu menjelaskan syarat – syarat air untuk beton

            Semen
Semen merupakan bahan campuran yang secara kimiawi aktif setelah berhubungan
dengan air. Agregat tidak memainkan peranan penting dalam reaksi kimia tersebut, tetapi
berfungsi sebagai bahan pengisi mineral yang dapat mencegah perubahan – perubahan
volume beton setelah pengadukan semen dan memaperbaiki keawetan beton yang
dihasilkan. Umumnya beton mengandung rongga udara 1 – 2%, pasta semen 25 – 40%,
dan agregat 60 – 75%.
Semen dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu :
1.      Semen Non Hidrolik
2.      Semen Hidrolik






1.1.1.      Semen Non Hidrolik
Semen non hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air, akan
tetapi dapat mengeras di udara. Contoh utama dari semen non hidrolik adalah kapur.
Jenis kapur yang baik adalah kapur putih yang mengandung kalsium oksida tinggi
ketika masih berbentuk kapur tohor (belum berhubungan dengan air), dan akan mengandung kalsium hidroksida ketika berhubungan dengan air.
            Kapur ini dihasilkan dengan membakar batu kapur dan kalsium karbonat bersama beserta bahan pengotornya, yaitu magnesium, silikat, besi, alkali, alumina dan belerang. Proses pembakaran dilaksanakan dalam tungku tanur tinggi berbentuk vertical atau tungku putar pada suhu 8000 – 12000 C. kalsium karbonat terurai menjadi kalsium oksida dan karbon dioksida. Kalsium oksida yang terbentuk disebut kapur tohor dan jiak berhubungan dengan air akan menjadi kalsium hidroksida serta panas dengan reaksi kimia sebagai berikut :

Ca(OH02 + CO2 à Ca(OH)2 + Panas

            Proses ini dinamakan dengan mematikan kapur (slanking) dan hasilnya yaitu kalsium hidroksida, sering disebut sebagai kapur mati. Kapur mati dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :
1.      Dapat dimatikan dengan cepat
2.      Dapat dimatikan dengan agak lambat
3.      Dapat dimatikan dengan lambat
Kapur dapat dimatikan dengan menambahkan air secukupnya (sekitar sepertiga
dari berat kapur tohor). Pengikatan kapur terjadi akibat kehilangan air akibat penyerapan oleh bata atau akibat penguapan. Proses pengerasan berlangsung akibat reaksi karbondioksida dari udara dengan kapur mati. Reaksinya sebagai berikut :

Ca(OH)2 + CO2 à CaCO3 + H2O

            Dari rekasi kimia terlihat bahwa akan terbentuk kembali kristal – kristal kalsium karbonat, yang menikat massa heterogen menjadi massa padat. Proses pengerasan ini berjalan lambat dan dapat berlangsung bertahun – tahun sebelum mencapai kekuatan yang penuh. Agar dapat berlangsung, diperlukan aliran uadar bebas dan persediaan karbondioksida yang dapat menembus bagian terdalam dari adukan sehingga proses pengerasan dapat berlangsung menyeluruh.
            Kapur putih ini cocok untuk menjernihkan plesteran langit – langit, untuk mengapur ruangan yang tidak penting dan garasi. Jika digunakan sebagai bahan tambah campuran beton, kapur putih akan menambah kekenyalan dan memperbaiki sifat pengerjaan (workability). Selain itu dengan menggunakan campuran 1:3, kapur putih dapat memperbaiki permukaan beton yang tidak mengandung pori – pori. Kekuatan kapur sebagai bahan pengikat, hanya dapat mencapai sepertiga kekuatan semen Portland.

1.1.2.      Semen Hidrolik

Semen hidrolik mempunyai kemapuan untuk mengikat dan mengeras di dalam
air. Contoh semen hidrolik adalah :
  • Kapur hidrolik
  • Semen pozzolan
  • Semen terak
  • Semen alam
  • Semen Portland
  • Semen Portland – pozzolan
  • Semen Portland terak tanur tinggi
  • Semen alumina
  • Semen ekspansif
  • Semen Portland putih, semen warna dan semen untuk keperluan khusus.





  1. Kapur Hidrolik
Sebagian besar (65 – 75%) bahan kapur hidrolik terbuat dari bati gamping
yaitu kalsium karbonat beserta bahan pengikutnya berupa silika, alumina, magnesium dan oksida besi.
Kapur hidrolik memperlihatkan sifat hidroliknya, namun tidak cocok untuk
bangunan – bangunan dalam air, karena membutuhkan udara yang cukup untuk mengeras. Sifat umum dari kapur hidrolik adalah sebagai berikut :

1.      Kekuatannya rendah
2.      Berat jenis rata – rata 1000 kg/m3
3.      Bersifat hidrolik
4.      tidak menunjukan pelapukan
5.      dapat terbawa arus
Perawatan kapur hidrolik dimulai setelah 1 (satu) jam dan diakhiri setelah 15 (lima belas) jam. Penggunaan antara lain untuk adukan tembok, lapisan bawah plesteran, plesteran akhir, bahan pencampur semen dan sebagai bahan tambah jika beton akan diekspos.

  1. Semen pozzolan        
Pozzolan adalah sejenis bahan yang mengandung silisium atau aluminium,
yang tidak mempunyai sifat penyemenan. Butiran halus dan dapat bereaksi dengan kalsium hidroksida pada suhu ruang serta membentuk senyawa-senyawa yang mempunyai sifat-sifat semen.
            Semen pozzolan adalah bahan ikat yang mengandung silica amorf, bila dscampur dengan kapur akan membentuk benda padat yang keras. Bahan yang mengandung pozzolan adalah teras, semen merah, abu terbang dan bubuk terak tanur tinggi ( SK. SNI T-15-1990-03:2).




            Teras alam dapat dibagi menjadi:
  1. Batu apung, obsidian, scoria, tuff, santorin dan teras yang dihasilkan dari batuan vulkanik.
  2. Terak yang mengandung silica amorf halus yang tersebar dalam jumlah banyak dan dapat bereaksi dengan kapur jika dibubuhi air serta membentuk silikat yang mempunyai sifat hidrolik.
  3. Teras buatan, meliputi abu batu, abu terbang, (fly ash) dari hasil residu PLTU dan hasil tambahan dari pengolahan bijih bauksit. Teras buatan ini di buat dengan pembakaran batuan vulkanik yang kemudian digiling. Semen teras meliputi semua bahan semen yang dibuat dengan menggunakan teras dan kapur tohor, yang tidak membutuhkan pembakaran. Teras buatan ini digunakan sebagai bahan tambah pada bangunan yang tidak memerlukan persyaratan konstruksi khusus.

c. Semen Terak
      Semen terak adalah semen hidrolik yang sebagian besar terdiri dari suatu campuran seragam serta kuat dari terak tanur kapur tinggi dan kapur tohor. Sekitar 60% beratnya berasal dari terak tanur tinggi. Campuran ini biasanya tidak di bakar. Jenis semen terak ada 2:
  1. Bahan yang dapat digunakan sebagai kombinasi semen portland dalam pembuatan beton dan sebagai kombinasi kapur dalam pembuatan adukan tembok.
  2. Bahan yang mengandung bahan pembantu berupa udara, yang digunakan seperti halnya jenis pertama.
Terak tanur tinggi adalah suatu bahan non metalik, yang sebagian besar terdiri dari silikat, aluminia silikat, kalsium dan senyawa basa lainnya, yang terbentuk dalam keadaan cair bersama-sama dengan besi dalam tanur tinggi.
Semen terak tidak begitu penting dalam struktur beton, tetapi cukup menguntungkan jika digunakan untuk pekerjaan yang besar yang tidak begitu mementingkan aspek kekuatan. Karena kadar alkali yang rendah semen terak tidak memperlihatkan noda-noda oleh kadar alkali sehingga dapat digunakan untuk keadaan khusus.

d. Semen Alam

               Semen alam dihasilkan dengan melakukan pembakaran batu kapur yang mengandung lempung padasuhu yang lebih rendah dari suhu pengerasan. Hasil pembakaran kemudian di giling menjadi serbuk halus. Kadar silica, alumina dan oksida besi pada besi cukup untuk membuatnya bergabung dengan kalsium oksida sehingga membentuk senyawa kalsium silikat dan aluminat yang dapat dianggap mempunyai sifat hidrolik.

e.  Semen Portland

            Semen Portland adalah semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang ummnya mengandung stu stau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya (ASTM C-150, 1985).
            Semen Portland yang dgunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar ( PB.1989.3.2-8)
            Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam pembangunan fisik di sector konstruksi sipil. Jika ditambah air semen akan menjadi pasta semen. Jika ditambah agregat halus, pasta semen akan menjadi mortar dan jika digabungkan dengan agregat kasar akan menjadi campuran beton segar yang setelah mengeras akan menjadi beton keras ( concrete).
            Semen Portland di bagi menjadi 5 jenis ( SK.SNI.T-15-1990-03:2 ), yaitu :
Semen portland dibagi menjadi 5 jenis (SK.SNI T-15-1990-03:2),yaitu :
ü  Tipe I, semen portland yang dalam pembuatannya tidak memerlukan syarat khusus seperti jenis-jenis lainnya.
ü  Tipe II, semen portland yang dalam pembuatannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.
ü  Tipe III, semen portland ang penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang tinggi dalam fase permulaan setelah pengikatan terjadi.
ü  Tipe IV, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi rendah.
ü  Tipe V, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat
  1. Syarat Fisik Semen Portland
Di indonesia syarat mutu yang di pergunakan adalah SII.0013-81,”Mutu dan Cara Uji Semen Portland”. Syarat mutu yang ditetapan SII diadopsi dari syarat mutu ASTM C-50.

Tabel 3.1. Syarat Fisika Semen Portland
NO
Uraian
Tipe Semen
I
II
III
IV
V
1
Kehalusan :






Sisa diatas ayakan 0.09 mm, %
10
10
10
10
10

maksimum






Dengan alat Vicat Blaney
2800
2800
2800
2800
2800
2
Waktu Pengikatan (setting time) :






Dengan Alat Vicat :






Awal, Menit Minimum
45
45
45
45
45

Akhir, Jam Maksimum
8
8
8
8
8

Dengan Alat Gillmore :






Awal, Menit Minimum
60
60
60
60
60

Akhir, Jam Maksimum
10
10
10
10
10
3
Kekalan : Pemuaian dalam
0.80
0.80
0.80
0.80
0.80

autoclave, maksimum





4
Kuat tekan (kg/cm2) :






1 hari, minimum


125



1 + 2 hari, minimum
125
100
250

85

1 + 6 hari, minimum
200
75

70
150

1 + 27 hari, minimum



175
210
5
Pengikatan semu (false set) :
50
50
50
50
50

Penetrasi akhir, % minimum





6
Panas Hidrasi (cal/g), maksimum :






7 hari

70

60


28 hari

80

70

7
Pemuaian karena sulfat :




0.45

14 hari, % maksimum








Ø   Kehalusan Butir ( Fineness)
                  Kehalusan semen mempengaruhi proses hidrasi. Waktu Pengikatan (setting time) menjadi semakin lam jika butir semen lebih kasar. Kehalusan penggilingan butir semen dinamakan penempang spesifik, yaitu luas butir penampang semen lebih besar, semen akan memperbesar bidang kontak dengan air. Semakin halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang.
                  Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya bleding ( naiknya air semen ke permukaan), tetapi menembah kecenderungan beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. Menurut ASTM, butir semen yang lewat ayakan no.200 harus lebh dari 78%. Untuk mengukur kehalusan butir semen digunakan “turbidimeter” dari Wagner atau “air permeability” dari Blaney.     

Ø  Kepadatan (density)
                  Berat jenis semen yang di syaratkan oleh ASTM adalah 3.15 mg/m3 . Berat jenis semen yang diproduksi berkisar antara 3.10 mg/m3 sampai 3.25 mg/m3. Variasi ini akan berpengaruh pada proporsi campuran semen dalam campuran. Pengujian berat jenis semen dapat dilakukan dengan Le Catelier Flask menurut standar ASTM C-88.

Ø  Konsistensi
                  Konsistensi semen berpengaruh pada saat awal pencampuran,yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai saat beton mengeras konsistensi yang terjadi bergantung pada ratio antara semen dan air serta aspek-aspek bahan semen seperti kehalusan dan kecepatan hidrasi.Konsistensi mortar bergantung pada konsistensi semen dan agregat pencampurnya.





Ø  Waktu Pengikatan (Setting Time)                                                   
                  Adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras, dihitung dari saat semen mulai bereaksi dengan air dan menjadi pasta semen sampai pasta semen cukup kaku untuk menahan tekanan.
                  Waktu pengikatan semen dibedakan menjadi 2,yaitu :
  1. Waktu pengikatan awal ( innitial setting time)
                  Yaitu waktu dari pencampuran semen dengan air menjadi pasta semen hingga hilangnya sifat keplastisan. Pada semen portland berkisar 1-2 jam, tetapi tidak boleh kurang dari1 jam.
  1. Waktu pengikatan akhir (final setting time),
                  Yaitu waktu antara terbentuknya pasta semen hingga beton mengeras.           Tidak boleh lebih dari 8 jam.
      Waktu pengikatan awal sangat penting pada kontrol pekerjaan beton. Pada keadaan tertentu diperlukan waktu pengikatan lebi awal lebih dari 2 jam. Waktu yang panjang ini diperlukan untuk transportasi (hauling), penuangan (dumping/pouring), Pemadatan (vibrating) dan penyelesaian (finishing). Proses ikatan disertai perubahan temperatur, dimulai sejak terjadi ikatan awal dan mencapai puncaknya pada waktu berakhirnya ikatan akhir. Waktu ikatan akan memendek karena naiknya temperatur sebesar 300c atau lebih waktu ikatan ini sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang dipakai dan oleh lingkungan disekitarnya.

Ø  Panas Hidrasi
                  Adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan air. Satuannya kalori/jam. Jumlah panas yang terbentuk tergantung dari jenis semen yang dipakai dan kehalusan butir semen. Pada pelaksanan, Perkembangan panas mengakibatkan masalah, yakni timbulnya retakan pada saat  pendinginan. Pada beberapa struktur beton, terutama struktur beton mutu tinggi, retakan ini tidak diinginkan. Oleh karena itu perlu dilakukan pendinginan melalui perawatan (curing) selama masa pelaksanaan.        

      Panas hidrasi naik sesuai dengan nilai temperatur pada saat hidrasi terjadi. Pada semen biasa, Panas hidrasi bervariasi mulai 37 kalori/gram pada temperatur 50c hingga 80 kalori/gram pada temperatur 400c. Semua jenis semen umumnya telah membebaskan sekitar 50%  panas totalnya pada 1 hingga tiga hari pertama 70% pada hari ke tujuh, serta 83-91% setelah 6 bulan. Laju perubahan panas ini tergantung pada komposisi semen.                                                                      Perkembangan panas hidrasi untuk berbagai semen pada suhu 210c diperlihatkan pada tabel 3.1 berikut  :

Tabel 3.2. Perkembangan Panas Hidrasi Semen Portland pada Suhu 21oC
Jenis Semen Portland
Hari
1
2
3
7
28
90
Tipe I


33
53
61
80
96
104
Tipe II


-
-
-
58
75
-
Tipe III


53
67
75
92
101
107
Tipe IV


-
-
41
50
66
75
Tipe V


-
-
-
45
50
-


















Tabel 3.3. Standar Pengujian Sifat Fisik Menurut ASTM
Sifat Fisik
ASTM Test
Kehalusan Butir Semen(Fineness) :




-           Air Permeability


C. 204



-           Turbidimeter


C. 115



-           Sleving



C. 184 (No. 100 dan 200, dry)





C. 786 (No. 50, 100, 200, wet)





C. 430 (No. 325, wet)


Kepadatan (density)


C. 188



Konsistensi (consistency)





-           Water requirement


C. 109



-           konsistensi normal


C. 187



Waktu Pengikatan (Setting Time)




-           Time of set


C. 266 (Gillmore)






C. 191 (Vicat)






C. 807 (Vicat Modifikasi)

-           False Set



C. 451



Panas Hidrasi


C. 186



Perubahan Volume


C. 157



Kuat Tekan


C. 109



Keawetan (durability)






-           Air content


C. 185



-           Reaksi alkali


C. 227 (menggunakan pyrex glass)
-           Sulfate expansion


C. 452 (untuk semen portland)


·         Kekeklan (Perubahan Volume)
Kekekalan Pasta semen yang telah mengeras merupakan suatu ukuran yang menyatakan suatu kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya. Ketidak kekalan semen disebabkan oleh terlalu banyaknya jumlah kapur bebas yang pembakarannya tidak sempurna serta magnesis yang terdapat dalam campuran tersebut. Kapur bebas mengikat air kemudian menimbulkan gaya-gaya ekspansi.
Alat untuk menentukan nilai kekekalan semen Portland adalah “Autoclave Expansion of Portland Cement” cara ASTM C-151, atau cara Inggris, BS “Expansion by Le Chatellier”.

·          Kuat Tekan
Kuat tekan semen diuji dengan cara membuat mortar yang kemudian ditekan sampai hancur. Contoh semen yang akan diuji dicampur dengan pasir silica dengan perbandingan tertentu, kemudian dicetak dengan kubus ukuran 5x5x5 cm. seelah berumur 3,7,14 dan 28 hari dan setelah mengalami perawatan dengan perendaman, benda uji tersebut diuji kuat tekannya.
            Perkembangan kekuatan tekan untuk mortar dan beton yang menggunakan berbagai jenis semen dapat dilihat pada gambar 3.1 dan 3.2 berikut.

b. Syarat Kimia Semen Portland
            Secara garis besar ada emapt senyawa kimia utama yang menyusun semen Portland, yaitu :
1.      Trikalsium Silikat (3 CaO.SiO2) disingkat menjadi C3S
2.      Dikalsium Silikat (2 CaO.SiO2) disingkat menjadi C2S
3.      Trikalsium Aluminat (3 CaO.Al2O3) disingkat menjadi C3A
4.      Tetrakalsium Aluminoferrit (4 CaO.Al2O3.Fe2O3) disingkat menjadi C4AF.
Komposisi C3S dan C2S sekitar 70 – 80% dari berat semen dan merupakan bagian yang paling dominan dalam memberikan sifat semen (Cokrodimuldjo, 1992).
Tabel 3.4. Komposisi Senyawa Kimia Semen Portland


Komposisi dalam persen (%)

Karakteristik Umum

C2S
C2S
C3A
C4AF
CaSO4
CaO
MgO

Tipe I, Normal
49
25
12
8
2.9
0.8
2.4
Semen Untuk semua









tujuan

Tipe II, Modifikasi
46
29
6
12
2.8
0.6
3

Relatif sedikit pelepasan









panas, digunakan untuk struktur besar.

Tipe III, Kekuatan Awal Tinggi
56
15
12
8
3.9
1.4
2.6
mencapai kekuatan awal  yang tinggi








Pada umur 3 hari











Tipe IV, Panas Hidrasi Rendah
30
46
5
13
2.9
0.3
2.7
di pakai pada bendungan beton.

Tipe V, Tanah Sulfat
43
36
4
12
2.7
0.4
1.6
dipakai pada saluran dan









struktur yang diekspose









terhadap sulfat.















f. Semen Portlan – Pozzolan
            Semen Portland – Pozzolan adalah campuran semen Portland dan bahan-bahan yang bersifat pozzollan seperti tanur tinggi dan hasil residu PLTU. Semen jenis ini biasanya digunakan untuk beton yang diekspos terhadap sulfat. Menurut SK. SNI. T-15-1990-03:2, semen Portland – Pozzolan dihasilkan dengan mencampur bahan semen Portland dengan pozzolan (15 – 40% dari berat total campuran), dengan kandungan SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 dalam pozzolan minimum 70%.
           
Suatu konstruksi sipil yang menggunakan Portland pozzolan sebagai bahan ikat harus memenuhi standar SII 0132 “ Mutu dan Cara Uji Semen portland pozzolan atau syarat ASTM C.595-82,yaitu “spesification for bland hydraulic cement (SKBI.1.4.53:2).
Abu terbang(fly ash) atau bahan pozzolan lainya yang dipakai sebagai bahan campuran tambahan harus memenuhi “spesification for fly ash and row or calcined natural pozzolan for use as Mineral Admixture in portland cement”(ASTM C.618).

g.semen putih
            semen putih adalah semen portland yang kadar oksida besinya rendah,kurang dari 0.5%.Bahan baku yang digunakan harus kapur murni,lempung putih yang tidak mengandung oksida besi dan pasir silika.

            Semen putih digunakan untuk mengisi siar ubin/keramik dan benda yang lebih banyak nilai seninya,umumnya tidak digunakan untuk bangunan struktur.semen putih diproduksi secara massal di pabrik.

h.Semen Alumina
            semen alumina dihasilkan melaui pembakaran batu kapur dan bauksityang telah digiling halus pada temperatur 1600⁰ C.hasil pembakaran tersebut berbentuk klinker,selanjutnya dihaluskan hingga menyerupai bubuk.semen alumina berwarna abu-abu
            Semen alumina mempunyai kekuatan awal tinggi,tahan terhadap serangan asm,garam sulfat dan api.tapi jika digunakan lebih dari 29⁰C,kekuatannya berangsur-angsur akn berkurang.karena jenis semen ini hanya digunakan untuk negara yang mempunyai musim dingin.






1.2 Air
            Air diperlukan pada pembuatan beton untuk memicu proses kimiawi semen,membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan beton.Air dapat diminum umumnya dapat digunakan sbg campuran beton.Air yang mengandung senyawa yang berbahaya,tercemar garam,minyak,gula atau bahan kimia lainnya,bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kualitas beton.
            Karena pasta semen merupakan hasil reaksi kimia antara semen dengan air,maka bukan perbandingan jumlah air terhadap total berat campuran yang penting,melainkan perbandingan air dengan semen atau yang biasa disebut dengan faktor air semen(water cement ratio)
            Air yang berlebihan menyebabkan banyaknya gelembung air yang terlalu sedikit akan mempengaruhi kekuatan beton yang menggunakan air standar/suling(PB 1989:9).

1.2.1.Syarat umum air
            Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih ,tidak boleh mengandung minyak,asam,alkali,zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak


beton tulangan.sebaiknya dipakai aiir tawar yang dapat diminum.air yang digunakan dalam pembuatan
Tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan (ACI 381-89:2-2)
Untuk perlindungan terhadap korosi,konsenterasi ion klorida max yang terdapat dalam beton keras umur 28 hari yang dihasilkan dari bahan ampuran termasuk air,agregat,semen dan bahan tambah tidak boleh melampaui nilai batas diberikan pada tabel 3.4 berikut.





Tabel 3.5 batas maksimum ion klorida
Jenis beton
Batas(%)
Beton pratekan
Beton bertulang yang terus berhubungan dg klorida
Beton bertulang yang selamanya kering atau  
terlindung dari basah
Konstruksi beton bertulang lainya
0.06
0.15
                  1.00

0.30
1.2.2.Syarat Mutu Air menurut British Standard (BS.3148-80)
            Kriteria yang harus dipenuhi oleh air yang akan digunakan sebagai campuran beton.jika ketentuan ini tidak terpenuhi,sebaiknya air tidak digunakan untuk membuat campuran beton.syarat tersebut antara lain:

2.Garam-Garam anorganik
            Ion-ion utama yang biasa terdapat dalam air adalah kalsium,magnesium,natrium,kalium,bikarbonat,sulfat,klorida,nitrat dan kadang-kadang karbonat.gabungan ion-ion tersebut tidak boleh lebih dari 2000mg/liter.
            Garam-garam anorganik ini akan memperlambat waktu pengikat an beton dan menyebabkan turunnya kekuatan beton.konsenterasi garam-garam tersebut  hingga 500 ppm dalam campuran beton masih diperbolehkan.

3.NaCl dan Sulfat
            Konsentrasi Nacl atau garam dapur sebesar 20000 ppm umumnya masih diizinkan.air campuran beton yang mengandung 1250 ppm natrium sulfat,Na2So4.10H2O,dapat digunakan dengan hasil yang memuaskan.

4.Air Asam
            Air asam dapat dipergunakan atau tiidak dalam campuran beton,bergantung konsenterasi asam yang dinyatakan dalam ppm (part permilion).Bisa atau tidaknya air ini digunakan tergantung nilai Phnya.
            Air netral biasanya mempunyai pH sekitar 7.00.nilai pH diatas 7.00 menyatakan keadaan kebasaan dan nilai dibawah 7.00 menyatakan keasaman.semakin tinggi nilai asam(pH lebih dari 3.00),semakin sulit beton dikelola.karena itu penggunaan air diatas pH 3.00 harus dihindari.

5.Air basah
            Air dengan kandungan natrium hidroksida sekitar 0.5% dari berat semen,tidak banyak berpengaruh pada kekuatan beton asalkan waktu pengikatan tidak berlangsung  dengan cepat.konsenterasi biasa lebih tinggi 0.5%berat semen akan mempengaruhi kekutan beton.

6.Air gula
            Bila kadar air gula dalam campurandinaikan hingga 0.2% dari berat semen,maka waktu pengikatan biasanya akan semakin cepat.Gula sebanyak 0.25% berat semen atau lebih akan melibatkan bertambah cepatnya waktu pengikatan secara signifikan dan berkurangnya kekuatan beton pada umur 28 hari.

7.Minyak
            Minyak mineral atau minyak tanah dengan konsenterasi lebih 2% berat semen dapat mengurangi kekutan beton hingga 20%.karena itu penggunaan air yang tercemar minyak sebaiknya dihindari.

8.Rumput Laut
            Rumput laut yang teracampur dalam air campuran beton dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan beton secara signifikan.bercampurnya rumput laut dengan semen mengakibatkan berkurangnya daya lekat dan menimbulkan sangat banyak gelembung udara pada beton.Beton menjadi keropos dan berkurangya daya lekat dan menimbulkan sangat banyak gelembung udara pada beton.beton menjadi keropos dan berkurang kekutannya.Rumput laut dapat juga dijumpai dalam agregat terutama agregat halus yang berasal dari pasir pantai .hal ini akan mengakibatkan hubungan  antar pasta semen dan agregat terganggu,bahkan menjadi buruk.

9.Zat-zat Organik,Lanau,Bahan-Bahan  terapung
            Kandungan zat organik dalam air dapat mempengaruhi waktu pengangakatan semen dan kekutan beton.air yang berwarna tua,berbau tidak sedap dan mengandung butir-butir lumut perlu diragukan dan diuji sebelum dipakai.
            \
Lempung yang terapung atau bahan halus kira-kira 2000 ppm yang berasaldari batuan ,dijinkan berada dalm campuran.Untuk mengurangi kadar lanau dan lempung dalam adukan beton,air yang mengandung lumpur harus diendapkan terlebih dahulu dalam bak-bak penampung sebelum digunakan.

9.air Limbah atau Air Cemaran Limbah Industi
            Air yang tercemar limbah industri sebelum dipakai harus dianalisis kandungan pengotornya dan diuji (dengan percobaan perbandingan)untuk mengetahui pengikatnya dan kuat tekan betonnya.
            Air limbah biasanya mengandung 400 ppm senyawa organik.setelah air limbah diencerkan/disaring ditempat yang cocok untuk



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar